Hai gua punya cerpen nih, like n' commentnya yaaaa..
Thanks.
Kha…
Sore ini cukup teduh, melihat seharian tadi terik matahari tak henti-hentinya menyengat. Jo masih dalam lamunan akan kesedihannya. Baru lewat seminggu setelah ia mengalami kekecewaan besar. Pemuda itu belum juga bosan melamun di tempat ini. Entah apa yang ia lamunkan. Tapi jujur saja, itu sangat sangat sangat menggangguku. Jo memang terkenal cowo’ pendiam, jutek, cuek dan misterius. Tapi, tidak terhadapku. Setahuku, dia seperti ini karena masa lalunya yang kelam. Hampir setiap sore, ia hanya menatap gedung pencakar langit dan kesibukan yang terjadi di jalan raya. Tak bosan aku menemaninya di atas gedung ini. Gedung sekolah kami. Entah mengapa perasaan yang sejak lama ku pendam, seolah-olah mulai berontak, menanti saat yang tepat untuk dikeluarkan.
Dan kurasa, inilah saatnya..
Memang tak biasa dalam standar kebudayaan dan kebiasaan negara ini, seorang cewe’ berinisiatif menyatakan perasaan terlebih dahulu. Akan tetapi, menurutku cinta itu masalah perasaan, bukan sebuah kebiasaan atau aturan.. Ya, cinta itu masalah perasaan, dan bukan sebuah kebiasaan atau aturan semata.
Aku melirik saku seragamku. Disana ada sebuah kertas yang dimana aku mencurahkan semua perasaanku. Aku tau, sekarang bukanlah jamannya surat-menyurat. Tapi mau bagaimana lagi?? Aku sudah terlanjur bingung. Sama seperti Abg-Abg lainnya. Aku juga ingin merasakan apa itu cinta. Cinta terhadap sahabat. Tapi ini lain, entah mengapa semenjak kejadian itu, pemuda ini lebih banyak diam, dan lebih tertutup kepadaku. Ya, aku tau ini memang berat, baginya, begitupun bagiku.. Sangat sangat berat..
Aku dan Jo baru saja Tamat SMA hari ini. Dan seharusnya hari ini jadi hari paling bahagia antara aku dan dia. Tapi mungkin, tidak baginya. Kelulusan ini menjadi malapetaka yang menoreh luka di hatinya. Aku tidak tau jelas apa permasalahannya, yang jelas, Jo berubah sangat sangat sangat drastis. Walau aku selalu menemaninya disini, ditempat ini..
Akan tetapi, ia tidak pernah bercerita. Yang ku tahu, dari sorot matanya itu, ia sangat terpukul atasnya. Dan yang ku tahu saat ia bersamaku tak lain hanya melamun, melamun dan melamun..
“ Jo “ aku mencoba agar pemuda itu berpaling dari lamunannya, dan kembali menatapku.
Aku mencoba memecah keheningan lebih dulu. Karena, percuma menunggunya bicara, tohh dia tidak akan bicara..
“ Ada yang ingin aku bicarakan “ Sahutku cepat.
Jo hanya diam, ia menantiku melanjutkan perkataanku, dengan sedikit rasa penasaran dari mimik wajahnya yang cuek itu.
“ Ehmmm, mungkin ini bukan saat yang tepat, tapi aku merasa inilah saatnya “ Aku mencoba berbasa-basi sedikit.
“ Kau kenapa Kha? “ Jo semakin penasaran.
“ Kau jadi aneh “ Katanya sambil tersenyum.
“ Aku cuma mau kamu tau, aku akan selalu ada sisimu “
Aku mulai mengungkapkannya.
“ Aku akan merasa lebih sedih melihatmu seperti ini “ Kata ku lagi
“ Kha?? “
Kini Jo sudah benar-benar menatap ke arahku.
“ Kau kenapa?? “ Tanyanya.
Aku tidak menghiraukan pertanyaannya. Aku lalu meneruskan perkataanku. Aku memberanikan diri mengatakannya.
“ Aku menyukaimu Jo “
Kontan, Jo mengubah mimik wajahnya. Ia terkejut mendengar pernyataanku,..
Lalu, aku meneruskannya lagi.
“ Aku tidak tahan melihatmu seperti ini “ ucap ku.
Tampak Jo berpikir kerass, seolah tak percaya denganku. Dengan pernyataan tadi.
“ Apa kau sadar dengan yang kau katakan?? “
Jo menatap lurus ke arahku.
“ Aku sadar Jo, aku sungguh-sungguh “ Jawabku kemudian
“ Mungkin aku memang terlalu egois. Maaf bila aku mengejutkanmu atau mengecewakan persahabatan kita “
Ya, aku dan dia sudah sahabatan sejak lama. Entah mengapa kebanyakan sebuah persahabatan yang dijalani oleh cowo’ dan cewe’ lama kelamaan akan jadian. Ehmmm, menurutku mungkin karena kita sudah saling kenal. Saling tahu satu sama lain. Mungkin, mulai dari rasa sayang antar sahabat itu bisa diperluas..
Aku mencoba berdiri dan segera beranjak dari tempat itu. Mungkin sudah cukup saat ini. Aku sudah cukup merasa lega. Walau tak sepenuhnya lega.
“ Apa kau tidak merasa sebagai pelarianku saat aku menerima perasaanmu itu?? “ Jo tiba-tiba bertanya.
Angin bertiup lagi. Sejuk dan bersahabat, walau kali ini lebih kencang. Jo masih terduduk di tempatnya. Ia menantiku menjawab pertanyaannya.
“ Aku rela walau aku sebuah pelarian. Karena memang seperti itulah cintaku kepadamu “ Ujarku spontan.
Jo tampak berdiri “ Walaupun kau tak akan pernah mendapatkan cintaku?? “ Tanyanya lagi.
Tak ku sangka ia akan bertanya hal itu..
“ Bukan masalah menerima “ Kataku sambil tertawa kecil
“ Tapi ini tentang memberi, itulah cinta Jo “ Kataku lagi..
Aku merasa lega dia menanyakan hal itu. Jo tampak terdiam lagi menatapku, entah apa yang dipikirkannya, namun yang pasti semua yang kami lalui akan benar-benar berubah. Tak akan seperti dulu lagi. Aku sadar itu..
Tiba-tiba Jo tersenyum padaku.
“ Maaf ya, mungkin aku masih belum dapat menerimanya “
Sudah kukira. Perkataan yang tidak membuatku senang namun juga tidak membuatku sakit hati atau terluka. Malahan mungkin pernyataan inilah yang kutunggu darinya. Melengkapi kelegaanku. Aku tersenyum padanya. Untuk menunjukkan padanya bahwa tidak ada hal yang harus ia sesalkan atau membuat ia merasa bersalah.
“ Namun kuharap kita bisa tetap menjadi sahabat “ ucapku lirih
“ Sayangnya, mungkin kita tidak akan bisa “ ujar Jo
Kata-kata yang mengejutkan keluar dari mulutnya. Aku tidak menyangka, ia akan berkata seperti itu. Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka, dan aku kaget luar biasa.
“ Ohh, ehmmm, it’s okay. Aku mengerti. Inilah konsekuensi yang harus ku terima. Walau memang berat, namun tidak membuatku menyesal “ Jawabku cepat sambil terbata-bata.
Aku lalu teringat akan kertas yang ku simpan di saku seragamku. Lalu aku berniat memberikan kertas itu sekarang.
“ Jo, ini ada yang harus kamu ketahui “ ujarku sambil memberikan kertas yang kusimpan didalam saku seragamku.
Dan kemudian segera aku beranjak dari tempat itu. Aku tidak akan pernah menyesali keputusanku, termasuk keputusanku mencintainya. Karena memang dibutuhkan sebuah keberanian untuk mengambil keputusan, dan aku bangga akan hal itu..
Setelah kepergianku, Jo yang masih terduduk di tempatnya memandang heran serta penasaran dengan kertas yang kini ia pegang..
Kemudian Jo membukanya..
Jo terkejut melihat isi kertas itu. Ternyata tentang perasaan Kha terhadap Jo.
Begitu panjang dan begitu puitis..
Jo mulai membacanya..
“ Pikiranku kosong, karena hati kecilku menolak untuk berpikir. Aku tidak bisa merasakan apa pun, karena sarafku menolak merasakan. Lebih baik aku tidak berpikir. Lebih baik sarafku mati rasa. Kalau tidak aku takkan sanggup menanggung rasa sakit ini. Terlalu besar.
Mendengar namamu saja, sudah cukup buruk bagiku, Jo . Melihatmu saja membuat hati dan pikiranku bertabrakan. Apalagi melihatmu dengan cewe’ lain, membuat aku mati rasa… Aku bisa saja menghindarimu, tapi aku tidak bisa menghindari perasaanku. Segalanya bertambah rumit, apalagi kalau melihat statusku denganmu. Kita masih sahabatan. Kita masih ada hubungan persahabatan. Yang tidak akan mungkin aku tentang..
Seluruh rasa sakit datang membanjiri tubuhku. Dan yang paling terasa sakit adalah hatiku. Aku menekan telapak tanganku di dada, seakan berusaha menutupi luka yang terbuka di sana..
Hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkanku setinggi langit, setinggi gedung-gedung pencakar langit ini. Kali lainnya hidup menghempaskanmu begitu keras ke bumi. Dan menghadapkanku pada suatu kenyataan. Kenyataan yang begitu menyakitkan. Ketika aku menyadari kaulah satu-satunya yang paling ku butuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku, kau juga satu-satunya orang yang tidak boleh kudapatkan. Kata-kataku mungkin terdengar tidak masuk akal, tetapi percayalah, aku rela melepaskan apa saja, melakukan apa saja, asal bisa bersamamu. Tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan??
Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupmu. Aku tidak akan melupakanmu, tapi aku harus melupakan perasaanku padamu, walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapmu tanpa bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Mungkin suatu hari nanti, aku tidak tahu kapan, rasa sakit ini akan hilang dan saat itu kita baru akan bertemu kembali…
Sekarang, saat ini saja, untuk beberapa detik saja, aku ingin bersikap egois. Ya bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul latar belakangku serta status kehidupanku. Tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan, aku ingin mengaku
“ Aku mencintaimu “…
Aku dan segala yang ku inginkan dalam hidup..
Semakin lama, pandanganku semakin kabur, dadaku semakin berat dan napasku semakin sulit. Aku benar-benar butuh kebebasan.
Hanya tangisan yang ada, aku membiarkan diriku menangis dengan keras. Menangisi diriku, menangisi dirimu, menangisi nasib, dan menangisi kenyataan. Aku menangis sampai kehabisan napas dan kelelahan. Namun, saat itu pun air mataku tidak mau berhenti mengalir..
Jangan marah padaku kalau aku menangis, hari ini saja. Kau boleh liat sendiri nanti. Kau akan lihat tidak lama lagi aku akan kembali seperti biasa, tertawa, dan mengoceh seperti biasa. I Promise..
Kudapat kebahagiaan tatkala kamu disampingku walau itu hanya sekejab. Kasih itu ada tanpa terasa, kenangan itu akan kukemas sebagai warna indah dalam hidupku “..
Jo mendesah lirih, tidak seperti biasanya Kha begitu puitis seperti ini.
Di lipatnya kembali kertas itu.
Lalu Jo kembali dalam lamunannya..
Entah apa yang ia pikirkan?? Kejadian masa lalu ataukah Kha. Sahabat seperjuangannya. Meraih kesuksesan.
Ya, Kha memang seorang gadis cantik yang jago bertarung. Kha seorang gadis yang cerdas, ramah, baik hati, dan tomboy. Ia adalah atlet PON tahun kemarin. Dan ia juga mempunyai segudang prestasi-prestasi lainnya. Jo bangga mempunyai sahabat seperti Kha..
Akan tetapi, baru sekaranglah Kha menunjukkan sifat aslinya. Ia begitu lembut. Jo tidak tahu, kapan Kha belajar bahasa-bahasa puitis ini. Tapi,…Jo merasa ia tidak main-main..
*Di tempat lain.
Aku merasa puas atas apa yang aku lakukan. Dan mungkin, ini memang yang terbaik untukku. Berat rasanya menerima keputusan itu. Tapi live go on. Aku tidak bisa terus-terusan terpuruk seperti ini. Kehilangannnya bukan berarti kehilangan cinta sejatiku. Melainkan, kehilangannya berarti kehilangan sahabat sejatiku..
“ Bye Jo, kuharap kau akan mendapat sahabat yang lebih baik dariku. Dan lebih segala-galanya. Aku tidak akan pernah memutuskan tali persahabatan kita, kalau bukan karena perasaan ini. Bye “..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar